Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

BBIB Singosari Perkuat Jaminan Semen Beku Bebas Bruselosis

27/10/2026 16:02:00 Aldy 49

Singosari, 27 Oktober 2026 — Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari menjalani inspeksi lapangan dalam rangka penilaian Kompartemen Bebas Penyakit Bruselosis pada 26–28 Oktober 2026. Verifikasi ini menjadi bagian penting untuk memastikan ternak pejantan, lingkungan produksi, hingga penerapan biosekuriti BBIB Singosari tetap memenuhi persyaratan kesehatan hewan sehingga semen beku yang didistribusikan kepada masyarakat terjamin mutu dan keamanannya.

Inspeksi dilakukan sebagai rangkaian penilaian kompartementalisasi bebas penyakit hewan menular berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 Tahun 2021. Tim verifikator melakukan pemeriksaan mulai dari dokumen, standar operasional prosedur, kondisi lapangan, alat pelindung diri, hingga data pengambilan sampel dan penerapan biosekuriti. Kegiatan berlangsung di BBIB Singosari pada 26–28 Oktober 2026.

Kepala BBIB Singosari, Dr. drh. Akbar, M.P., mengatakan jaminan kesehatan ternak pejantan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kualitas semen beku yang digunakan peternak di berbagai daerah.

“Saat ini BBIB Singosari memenuhi kurang lebih 70 persen kebutuhan semen beku nasional, sehingga sangat penting bagi BBIB Singosari untuk memastikan semen beku yang dihasilkan berkualitas dan bebas dari penyakit, termasuk bruselosis,” ujar Akbar.

Ia menegaskan BBIB Singosari memberikan ruang kepada tim verifikator untuk melihat secara langsung kondisi di lapangan secara independen. “Silakan memantau kondisi riil yang ada di BBIB Singosari. Kami berkomitmen tinggi untuk terus menjaga kondisi BBIB Singosari dan menerapkan protokol biosekuriti yang ketat sehingga tetap bebas dari berbagai penyakit hewan menular strategis,” lanjutnya.

Dari Direktorat Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, drh. Dhony KN menyampaikan bahwa proses verifikasi dilakukan secara menyeluruh agar hasil penilaian benar-benar menggambarkan kondisi BBIB Singosari.

“Kami akan melakukan verifikasi secara menyeluruh, mulai dari dokumen sampai kondisi riil yang ada di lapangan, sehingga kami bisa mendapatkan gambaran yang komprehensif dan memberikan hasil verifikasi yang utuh,” katanya.

Penguatan status bebas bruselosis juga didukung oleh kegiatan surveilans kesehatan hewan yang dilakukan secara rutin. drh. Suhardi dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates mengatakan BBIB Singosari setiap tahun melaksanakan surveilans bersama BBVet Wates melalui pengambilan sampel untuk berbagai Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS), termasuk bruselosis.

“BBIB Singosari setiap tahun rutin melaksanakan surveilans bersama kami. Kami melakukan pengambilan sampel untuk PHMS, bruselosis termasuk di dalamnya, dan alhamdulillah hasilnya selalu tidak ditemukan adanya bruselosis,” ujar Suhardi.

Ia juga menyoroti perbaikan biosekuriti di lingkungan BBIB Singosari. Saat ini masyarakat tidak lagi melintas melalui bagian tengah kawasan BBIB Singosari karena telah tersedia jalur alternatif di sisi kawasan. Perubahan tersebut dinilai memperkuat pengendalian lalu lintas orang dan membantu menekan risiko masuknya agen penyakit ke area pemeliharaan ternak dan produksi.

Bagi masyarakat dan peternak, penilaian kompartemen bebas bruselosis memberikan manfaat lebih dari sekadar pemenuhan administrasi kesehatan hewan. Status kesehatan yang terjaga menjadi fondasi untuk menghasilkan semen beku yang aman dan berkualitas, sehingga program inseminasi buatan dapat berjalan dengan lebih terjamin dan mendukung peningkatan produktivitas serta mutu genetik ternak.

Bruselosis merupakan penyakit yang dapat mengganggu fungsi reproduksi ternak dan pada kondisi tertentu dapat menular kepada manusia. Karena itu, pencegahan penyakit sejak dari sumber pejantan menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan usaha peternakan sekaligus melindungi kesehatan masyarakat.

Melalui inspeksi dan verifikasi yang dilakukan secara independen, BBIB Singosari berharap kepercayaan masyarakat terhadap produk semen beku nasional semakin kuat. Upaya tersebut sekaligus memastikan bahwa distribusi teknologi reproduksi kepada peternak di berbagai daerah didukung oleh sumber genetik yang sehat, aman, dan memenuhi standar kesehatan hewan. (*)