BBIB Singosari Perkuat Jaminan Kesehatan Ternak melalui Uji Antibodi PMK
Singosari, 30 Juli 2026 — Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari memperkuat pemantauan kesehatan ternak melalui pengujian titer antibodi hasil vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Kegiatan tersebut dilakukan bersama tim Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) pada 29–30 Juli 2026.
Tim BBPMSOH mengambil sampel darah dari 117 ekor ternak yang terdiri atas 70 ekor sapi pejantan, 30 ekor sapi perah dewasa, dan 17 ekor pedet sapi perah. Sampel tersebut selanjutnya diuji untuk mengetahui respons antibodi ternak setelah mendapatkan vaksinasi PMK.
Ketua Tim Manajemen Pemeliharaan Ternak BBIB Singosari, Dr. drh. Andi Widodo, M.Si., mengatakan pengujian diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas program vaksinasi yang telah dilaksanakan.
“Kegiatan ini penting untuk melihat apakah vaksinasi yang dilakukan telah efektif sehingga terbentuk antibodi yang diperlukan oleh ternak,” kata Andi.
Pengujian titer antibodi memberikan informasi mengenai respons kekebalan ternak terhadap vaksin. Hasil pemeriksaan dapat digunakan sebagai bahan evaluasi program kesehatan, termasuk menentukan perlunya tindakan lanjutan sesuai rekomendasi dokter hewan dan hasil laboratorium.
Pemantauan setelah vaksinasi merupakan bagian penting dalam program pengendalian PMK. Pedoman FAO dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia menekankan bahwa pelaksanaan vaksinasi perlu terus dipantau dan dievaluasi untuk mengetahui apakah vaksin mampu menghasilkan respons imun serta tingkat kekebalan populasi yang diharapkan.
Bagi BBIB Singosari, perlindungan kesehatan sapi pejantan memiliki arti strategis. Pejantan yang sehat diperlukan untuk menjaga konsistensi proses penampungan dan produksi semen beku. Karena itu, vaksinasi, pemantauan antibodi, pemeriksaan kesehatan rutin, biosekuriti, serta manajemen pakan dan pemeliharaan harus dilakukan secara terpadu.
Pengujian titer antibodi bukan merupakan pemeriksaan langsung terhadap mutu semen beku. Namun, kegiatan tersebut menjadi bagian dari sistem pemeliharaan kesehatan pejantan yang mendukung keberlangsungan produksi semen beku berkualitas bagi program inseminasi buatan.

Kepala Bagian Umum BBPMSOH, drh. Anik Winaningrum, M.Si., mengapresiasi keragaman sumber daya genetik pejantan yang dipelihara BBIB Singosari.
“Saat ini semakin banyak rumpun pejantan yang tersedia di BBIB Singosari. Hal tersebut menambah variasi pilihan sesuai kebutuhan peternak dan memberikan warna bagi pengembangan peternakan Indonesia,” ujar Anik.
Keragaman rumpun pejantan memberikan lebih banyak pilihan bagi pemerintah daerah dan peternak dalam menentukan semen beku sesuai tujuan pemuliaan, kondisi lingkungan, serta arah pengembangan ternak di masing-masing wilayah. Agar manfaat tersebut berkelanjutan, setiap pejantan harus dipelihara dengan standar kesehatan yang ketat.
Kolaborasi BBIB Singosari dan BBPMSOH ini diharapkan memperkuat deteksi dini terhadap kebutuhan perlindungan kesehatan ternak. Bagi masyarakat, kesehatan pejantan yang terjaga berarti tersedianya sumber genetik unggul secara berkelanjutan, terpeliharanya kualitas layanan inseminasi buatan, serta semakin kuatnya upaya peningkatan populasi dan produktivitas ternak nasional.