Dari Setetes Mani Menuju Sejuta Pengakuan: BBIB Singosari sebagai Center of Excellence Kerja Sama Pembangunan Internasional Indonesia
Jakarta, 22 Juli 2026 — Kepala Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari memenuhi undangan in-depth interview dari Direktorat Hubungan Luar Negeri, Kementerian PPN/Bappenas, dalam rangka pemetaan database Center of Excellence Kerja Sama Pembangunan Internasional (KSPI) Indonesia untuk sektor ketahanan pangan. Pertemuan yang berlangsung secara tatap muka di Jakarta ini menjadi salah satu tahapan penting dalam menilai potensi institusi teknis di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian, untuk berkontribusi lebih luas dalam program peningkatan kapasitas bagi negara-negara mitra.
Dalam wawancara tersebut, tim Bappenas menggali sejumlah aspek kunci meliputi kapasitas kelembagaan, keunggulan tematik, praktik baik, hingga peluang kontribusi BBIB Singosari dalam kerja sama pembangunan internasional, mengacu pada kerangka Organization Performance Index yang mencakup lima dimensi yaitu Effectiveness, Efficiency, Relevance, Sustainability, serta International Cooperation and Innovation.
Empat Dekade Perjalanan, Satu Tetes Harapan Dunia
Mengusung semboyan "Setetes Mani, Sejuta Harapan," BBIB Singosari memaparkan rekam jejaknya sebagai produsen utama semen beku ternak unggul nasional dengan total distribusi hingga tahun 2025 mencapai lebih dari 60,86 juta dosis kumulatif dan telah berkontribusi pada kelahiran lebih dari 24,3 juta pedet hasil inseminasi buatan (IB), memenuhi lebih dari 60% kebutuhan semen beku nasional.
Namun cerita BBIB Singosari tidak berhenti di dalam negeri. Sejak 2007, institusi ini telah menjalin kemitraan dengan 36 negara, melatih lebih dari 400 profesional dari luar negeri, mengekspor lebih dari 35 ribu dosis semen beku ke 11 negara, serta mengirimkan tenaga ahli dalam 24 kegiatan scale-up program di 10 negara mitra, termasuk Kyrgyz Republic, Timor Leste, Tanzania, Madagaskar, Nigeria, Ethiopia, dan Zimbabwe.
Dari berbagai kerja sama tersebut, salah satu best practice adalah program Reverse Linkage on the Strengthening of Artificial Insemination of Livestock bersama Islamic Development Bank (IsDB) dan Kyrgyz Republic (2014–2017). Program ini berhasil memperkuat sistem inseminasi buatan di negara tersebut, khususnya melalui modernisasi proses produksi semen beku sesuai kebutuhan Kyrgyzstan. Program reverse linkage ini kemudian mengilhami lahirnya program AIDA (Artificial Insemination Development and Advancement) di Afrika yang berhasil mencatatkan conception rate 49,46%–57,35%, melampaui target minimum 40%. Capaian ini menegaskan bahwa keberhasilan program tidak diukur sekadar dari jumlah kegiatan terlaksana, melainkan dari dampak nyata di lapangan.Tata Kelola sebagai Fondasi Kepercayaan
BBIB Singosari juga memaparkan sistem tata kelola yang menopang seluruh capaian tersebut, mulai dari Rencana Strategis Bisnis, Rencana Bisnis dan Anggaran, Perjanjian Kinerja berjenjang, hingga monitoring melalui dashboard kinerja. Seluruh proses diterapkan secara traceable, terdokumentasi, dan dievaluasi berkala, didukung oleh standar internasional seperti ISO 9001:2015, ISO/IEC 17025:2017, ISO 37001:2016, dan ISO 45001:2018. Produk semen beku yang dihasilkan telah tersertifikasi SNI dari Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro)sehingga menjamin kesesuaian spesifikasi dan kualitas produk hingga ke tangan pengguna
Kepala BBIB Singosari, Dr. drh. Akbar Yasin, M.P, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Bappenas dalam memetakan potensi kelembagaan Indonesia untuk kerja sama pembangunan internasional. Sesi ini menjadi ruang bagi BBIB Singosari untuk menyampaikan rekam jejak, tata kelola, dan komitmennya sebagai mitra pembangunan peternakan yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan bagi negara-negara berkembang.