Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatuX https://ditjenpkh2.pertanian.go.id/
Logo

BBIB SINGOSARI HADIRKAN RED BRAHMAN, PERKUAT PRODUKTIVITAS SAPI POTONG

27/07/2026 08:23:00 Aldy 10

Singosari, 27 Juli 2026 — Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari memperkenalkan pejantan Red Brahman sebagai alternatif sumber genetik unggul untuk membantu meningkatkan produktivitas sapi potong milik peternak. Namun, penerapannya harus dilakukan melalui program persilangan yang terarah, didukung pencatatan ternak, manajemen kesehatan, dan penyediaan pakan yang sesuai.

Hal tersebut mengemuka dalam Forum Konsultasi Publik BBIB Singosari Tahun 2026 yang digelar di BBIB Suites, Senin (27/7/2026), dengan tema “Introduksi Red Brahman terhadap Sapi Persilangan untuk Peningkatan Produktivitas Ternak”. Forum melibatkan pemerintah daerah, akademisi, praktisi, pengguna layanan, serta pemangku kepentingan di bidang peternakan.

Kepala BBIB Singosari, Dr. drh. Akbar, M.P., mengatakan introduksi Red Brahman merupakan bagian dari inovasi layanan reproduksi ternak untuk menyediakan lebih banyak pilihan pejantan unggul bagi masyarakat.

“Red Brahman kami hadirkan sebagai alternatif pejantan unggul yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap lingkungan tropis, pertumbuhan yang baik, serta potensi produksi daging yang lebih tinggi,” ujar Akbar.

Menurutnya, BBIB Singosari akan terus meningkatkan kualitas produksi dan distribusi semen beku untuk mendukung program inseminasi buatan nasional. Masukan dari peternak dan pemerintah daerah, termasuk mengenai ketersediaan semen beku Red Brahman dan semen sexing, akan menjadi bahan evaluasi dalam pengembangan layanan.

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Dr. Jakaria, S.Pt., M.Si., menjelaskan Red Brahman memiliki sejumlah keunggulan, antara lain tahan terhadap suhu panas dan ektoparasit, memiliki kaki dan kuku yang kuat, mampu memanfaatkan pakan secara efisien, serta mempunyai potensi pertumbuhan dan kualitas karkas yang baik.

Persilangan sapi betina Peranakan Ongole dengan pejantan Red Brahman, kata dia, berpotensi menghasilkan keturunan dengan pertumbuhan, efisiensi pakan, dan persentase karkas yang lebih baik dibandingkan sapi lokal murni. Meski demikian, manfaat tersebut hanya dapat diperoleh apabila program persilangan dilakukan secara terencana.

“Persilangan harus memiliki tujuan pemuliaan yang jelas dan didukung pencatatan yang baik. Penggunaan Red Brahman juga tidak disarankan pada wilayah yang ditetapkan sebagai kawasan pemurnian plasma nutfah sapi lokal,” kata Jakaria.

Selain faktor genetik, Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN Eng., mengingatkan bahwa kualitas pakan menjadi penentu utama keberhasilan peningkatan produktivitas ternak.

“Potensi genetik yang baik tidak akan tercapai secara optimal tanpa dukungan pakan yang berkualitas, lengkap, dan seimbang sesuai kebutuhan ternak,” ujarnya.

Ia juga meluruskan anggapan sebagian peternak bahwa pakan fermentasi dapat menyebabkan gangguan reproduksi atau keguguran. Menurutnya, gangguan reproduksi lebih banyak disebabkan oleh ketidakseimbangan energi, protein, dan mineral. Pakan fermentasi yang disusun dengan komposisi tepat justru dapat meningkatkan kecernaan dan efisiensi penggunaan nutrisi.

Dalam forum tersebut, perwakilan pemerintah daerah turut meminta BBIB Singosari meningkatkan ketersediaan semen beku Red Brahman dengan harga yang terjangkau. Permintaan itu muncul seiring tingginya minat masyarakat terhadap sapi berwarna merah dan kebutuhan mempercepat pemulihan populasi serta mutu genetik ternak setelah wabah Penyakit Mulut dan Kuku.

BBIB Singosari menyatakan peningkatan produksi akan dilakukan secara bertahap sesuai jumlah pejantan yang telah lulus sertifikasi. Setiap pejantan Red Brahman juga mendapatkan perlakuan khusus dalam aspek pakan, kesehatan, pemeliharaan, dan penampungan semen agar mampu beradaptasi serta menghasilkan semen beku berkualitas.

Forum tersebut menghasilkan rekomendasi agar introduksi Red Brahman disertai edukasi dan pendampingan kepada peternak, penguatan sistem pencatatan ternak, peningkatan ketersediaan semen beku, serta kolaborasi antara BBIB Singosari, pemerintah daerah, akademisi, dan pengguna layanan.

Melalui penerapan persilangan yang terarah dan manajemen pemeliharaan yang tepat, pemanfaatan Red Brahman diharapkan tidak hanya meningkatkan bobot dan kualitas ternak, tetapi juga memperbaiki efisiensi usaha serta pendapatan peternak secara berkelanjutan.(*)