Oleh : Muhammad Tegar Kusmahidayat K.

Pengawas Bibit Ternak Ahli

 

Evaluasi kualitas semen adalah salah satu upaya pendekatan untuk mengetahui fertilitas sapi pejantan, walaupun tidak ada uji yang akurat untuk mengukur tingkat fertilitas (Ax et al., 2000). Penelitian mengenai evaluasi kualitas semen banyak dilakukan namun hanya sedikit yang berdampak pada fertilitas. Saat ini, evaluasi parameter semen yang umum diaksanakan di produsen semen beku diantaranya motilitas, konsentrasi, dan viabilitas (Moradpour, 2019). Penilaian kualitas semen dapat dilakukan dengan 2 pemeriksaan yaitu pemeriksaan secara makroskopis dan mikroskopis (Susilawati, 2011).

Uji Makroskopis 

Uji Makroskopis meliputi empat parameter yaitu volume, warna, kekentalan dan pH. Pada umumnya volume semen bervariasi berdasarkan bangsa ternak yaitu sekitar 1-15 ml (Garner dan Hafez, 2000; Centola, 2018). Semen sapi dapat berwarna putih susu atau kekuning-kuningan yang disebabkan oleh kandungan riboflavin dalam semen. Warna semen bisa saja tidak tergolong warna di atas yang menandakan adanya ketidaknormalan pada semen tersebut. Warna yang tergolong jernih sebagai indikasi konsentrasi spermatozoa dalam semen terlalu rendah. Warna hijau bercampur kekuning-kuningan disebabkan oleh Pseudomonas aerginosa. Jika warna merah muda/gelap menandakan adanya darah yang tercampur dalam semen. Semen sapi memiliki pH kisaran  6,2 sampai dengan 6,8 (Ismaya, 2014). Volume tidak berkaitan langsung dengan kualitas spermatozoa, namun evaluasi volume semen sangat penting dalam mengetahui konsentrasi spermatozoa per ejakulasi (Moradpour, 2019).

Uji Mikroskopis

Uji mikroskopis terdiri dari uji motilitas, konsentrasi, viabilitas (persentase hidup) dan uji morfologi (abnormalitas spermatozoa) (Susilawati, 2011). Motilitas dan konsentrasi merupakan parameter yang paling penting dalam penilaian kualitas semen (Centola, 2018). Motilitas merupakan parameter umum dalam menandakan kemampuan fungsional dari sel spermatozoa yang berperan penting dalam keberhasilan fertilisasi (Centola, 2018; Moradpour 2019). Motilitas berkorelasi positif dengan morfologi dan kekuatan membran sel (Moradpour, 2019). Pengukuran motilitas spermatozoa adalah mengestimasi viabilitas spermatozoa dan kualitas kemampuan bergerak spermatozoa untuk mencapai ovum. Pengukuran motilitas dilakukan dengan meletakan satu tetes semen di atas gelas objek lalu diamati dengan mikroskop dengan pembesaran 200x sampai 400x. Keahlian dan pengalaman dari peguji menentukan akurasi estimasi tingkat motilitas spermatozoa. Nilai motilitas semen segar pada sapi yang dinyatakan baik adalah 70-90%. Motilitas spermatozoa dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya umur ternak, kondisi medis, temperatur lingkungan dan polusi (Jaenudeen dan Hafez, 2000; Centola, 2018).

Konsentrasi spermatozoa adalah banyaknya spermatozoa per unit dalam satuan volume atau per satu milliliter semen (Ismaya, 2014; Centola, 2018). Menurut Garner dan Hafez (2000) konsentrasi sapi pejantan berkisar 800 sampai dengan 2000 juta sel spermatozoa/ml. Penilaian konsentrasi spermatozoa tiap milliliter sangat penting, karena faktor ini digunakan sebagai kriteria penentu kualitas semen dan menentukan tingkat pengenceran pada pembuatan semen beku. Konsentrasi spermatozoa bisa dihitung dengan menggunakan haemositometer, colorimeter, atau spectrophotometer (Susilawati, 2011).

Penilaian abnormalitas sperma penting bagi analisis semen karena sangat mempengaruhi kualitas semen. Abnormalitas spermatozoa dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian yaitu abnormalitas pada kepala, bagian tengah dan ekor. Abnormalitas pada kepala seperti terlalu besar atau kecil, runcing atau tumpul, kepala dua, kerusakan akrosomal dan amorf. Abnormalitas pada bagian tengah seperti bagian leher yang tebal atau tipis, ekor tidak berada di tengah bagian leher, atau leher yang bengkok. Sedangkan abnormalitas pada ekor seperti ekor bengkok, ekor pendek, atau melingkar dari ujung ekor (Centola, 2018).

 

DAFTAR PUSTAKA

Ax R.L., M. Dally, B.A. Didion, R.W. Lenz, C.C. Love, D.D. Varner, B. Hafez, dan M.E. Bellin. 2000. Semen Evaluation. Dalam : Hafez E.S.E (ed). Reproduction in Farm Animals 7th Ed. Lippincott Williams & Wilkins, USA.

Centola, G. M. 2018. Semen Analisys. In. Skinner, M. K (ed). Encyclopedia of Reproduction. Publisher Elsevier Science Publishing Co Inc, USA.

Garner D.L., dan E.S.E. Hafez. 2000. Spermatozoa and Seminal Plasma. Dalam : Hafez E.S.E (ed). Reproduction in Farm Animals 7th Ed. Lippincott Williams & Wilkins, USA.

Ismaya. 2014. Bioteknologi Inseminasi Buatan pada Sapi dan Kerbau. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Jaenudeen M.R., dan E.S.E. Hafez. 2000. Cattle and Buffalo. Dalam : Hafez E.S.E (ed). Reproduction in Farm Animals 7th Ed. Lippincott Williams & Wilkins, USA.

Moradpour F. 2019. Review on animals semen characteristics: fertility, reproduction and development. Asian J. Adv. Agric. Res. 10 (2): 1-9.

Susilawati, T. 2011. Spermatology. UB Press, Malang.