skip to Main Content
Focus Group Discussion (FGD) Optimalisasi Kerjasama Selatan-Selatan Dan Triangular Melalui Peran BUMN/Swasta Di BBIB Singosari

Focus Group Discussion (FGD) Optimalisasi Kerjasama Selatan-Selatan dan Triangular melalui Peran BUMN/Swasta di BBIB Singosari

[:id]Pada tanggal 26 Juli 2019 telah dilakukan kegiatan FGD terkait dengan Optimalisasi Kerjasama Selatan selatan dan triangular melalui peran BUMN/Swasta. Kegiatan tersebut diprakarsai oleh Kementerian PPN/ Bappenas sebagai rangkaian kegiatan roadshow ke 50 kota di Indonesia yang dihadiri oleh Dr. Ir. Wisnu Utomo M.Sc (Direktur Politik Luar Negeri dan Kerjasama Pembangunan Internasional Kementerian PPN/Bappenas) dan staf, Kepala BBIB Singosari dan staf, Hagus Tarno, Dr. Agr. Sc. (Ketua Pusat Kajian Kerjasama Selatan-Selatan Universitas Brawijaya). Tujuan dari kegiatan tersebut diharapkan  mendapatkan masukan strategis dari instansi Badan Layanan Umum (BLU) dan Universitas terkait optimalisasi pelaksanaan KSST di Indonesia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkualitas melalui perdagangan dan investasi.

Disampaikan Dr. Ir. Wisnu Utomo M.Sc bahwa saat ini Perkembangan KSST Indonesia bersama Mitra Non-State Actors telah dilakukan (1) Pemberian Beasiswa dan Pelatihan Teknis oleh 16 Universitas di Indonesia (2) Pelatihan peningkatan kapasitas oleh organisasi Difabel Indonesia di Vietnam (3) Program Magang dan Transfer Teknologi oleh Organisasi Keagamaan dan (4)  Program Pelatihan Operasional oleh Mitra Swasta. Sehingga Arah Kebijakan ke Depan mengoptimalisasi pelaksanaan kerjasama pembangunan internasional melalui pemanfaatan KSST oleh Aktor swasta dan BUMN untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Dalam presentasi Kepala BBIB Singosari disampaikan Pengalaman BBIB Singosari dalam pelaksanaan program dan kegiatan KSST Indonesia yang telah dilakukan lebih dari 12 tahun kepada lebih dari 24 negara penerima, berbagai Keuntungan dan manfaat  yang diperoleh dari program KSST termasuk tantangan dan kendala yang dihadapi oleh BBIB Singosari termasuk mitra kerjanya. Untuk itu semua diperlukan dukungan Model insentif sebagai BLU dalam pelaksanaan program KSST diantaranya (1) Dilibatkan dalam setiap program bantuan teknis, terkait yang bisa dilakukan oleh BBIB Singosari. (2) Dilibatkan dalam setiap program promosi di luar negeri yang berupa pameran dalam rangka menjaring konsumen dan meningkatkan volume export dan (3) difasilitasi terkait dengan pengurangan biaya pengiriman produk ke negara tujuan.

Sedang disampaikan Hagus Tarno, Dr. Agr. Sc bahwa Universitas Brawijaya perlu berperan dalam kegiatan KSST sebagai bentuk (1) Tridharma Perguruan Tinggi (2) Peningkatan Kinerja Universitas Brawijaya (3) Bargaining Position UB di dunia Internasional dan Peningkatan Reputasi dan Membangun Keberlanjutan Kerjasama Internasional. Model insentif yang dilakukan melalui Sharing Dana untuk mendukung Pelaksanaan Program KSST dari Pemerintah Pusat dan fasilitasi dan dukungan dalam mendapatkan support dana dari Pihak Internasional.

Dari presentasi 3 narasumber tersebut dirumuskan bahwa pelaksanaan KSST dapat dioptimalkan dengan kecukupan anggaran dari negara donor (Indonesia) dan negara penerima, dukungan BUMN/BLU dan swasta serta kegiatan yang berkelanjutan disetiap negera penerima dengan participan yang tepat dan sesuai. Dengan masuknya Indonesia sebagai negara dengan kategori lower middle income country memberikan peluang yang besar untuk lebih berperan dalam pembangunan dunia. Diharapkan peran Indonesia saat ini tidak hanya sebagai negara penerima bantuan tetapi juga sebagai negara pemberi bantuan kepadanegara-negara berkembang sehingga memberikan peluang bagi Indonesia untuk berperan dalam menentukan arah pergerakan ekonomi global. (AW)[:]

This Post Has 9 Comments
Back To Top